Artikel

Saturday, December 03, 2005

Tempat Ziarah Adalah "Tempat Khusus" Untuk Dialog Dan Evangelisasi


Demikian salah satu poin penting dalam pertemuan di Uijeongbu, Korea Selatan, sebagaimana dilaporkan UCAN.
Para rektor dan pengurus tempat dan pusat ziarah di Asia memutuskan untuk menggunakan pusat-pusat itu untuk melakukan evangelisasi, mempromosikan budaya kehidupan, dan melakukan dialog dengan agama-agama lain.
Selain para rektor dan pengurus pusat-pusat ziarah itu, di antara 87 peserta Kongres Asia Kedua tentang Ziarah dan Pusat Ziarah itu terdapat juga uskup-uskup, pekerja, dan relawan. Klerus, awam, dan kaum religius yang menghadiri pertemuan 21-23 November di Uijeongbu (30 kilometer utara Seoul) itu berasal dari 14 negara di Asia dan Vatikan, termasuk pembicara dari Chile dan Amerika Serikat. Tema pertemuan itu: "Pilgrimages and Shrines, Gifts of God-Love in Asia Today" (ziarah dan pusat ziarah, anugerah kasih Allah di Asia dewasa ini).
Kongres itu terselenggara berkat kerja sama tiga sponsor -- Dewan Kepausan untuk Pastoral Migran dan Orang Dalam Perjalanan, Komisi Pastoral Migran dan Orang dalam Perjalanan dari Konferensi Waligereja Korea, dan Keuskupan Agung Seoul. Kongres pertama dilaksanakan di Manila tahun 2003.
Dalam sambutan pembukaan, Stephen Kardinal Hamao Fumio, ketua dewan kepausan itu, mengatakan, pusat-pusat ziarah di Asia hendaknya digunakan untuk melindungi kehidupan dan keluarga. "Tempat-tempat ziarah adalah tempat-tempat istimewa yang disambut baik umat beragama, keluarga-keluarga Allah. Oleh karena itu, pastoral keluarga, perlindungan terhadap kehidupan, dan pembelaan terhadap hak asasi manusia hendaknya tampak dalam penerimaan dan pendampingan kita terhadap para peziarah," kata kardinal asal Jepang itu.
Tempat-tempat ziarah juga merupakan "tempat bagi dialog antaragama dan ekumenis," katanya. Dia menambahkan, "para peziarah itu berasal dari Gereja-Gereja dan komunitas-komunitas eklesial yang berbeda, serta dari agama-agama yang berbeda."
Pastor Manuel Martinez, sekretaris dewan kepausan itu, mengatakan kepada UCA News 23 November, dimensi lintas agama ini merupakan sesuatu "yang sangat menarik di Asia," tempat penganut dari berbagai agama mengunjungi tempat-tempat ziarah dari agama-agama yang berbeda.
Dalam kongres tiga hari itu, para peserta berbicara tentang peran tempat ziarah atau pusat ziarah di tempat mereka masing-masing dalam meningkatkan dialog antaragama, inkulturasi, dan jumlah peziarah, serta dalam menghadapi kasus-kasus yang terkait dengan perpindahan penduduk.
Di antara para peserta itu terdapat Uskup Cheongju (Korea Selatan) Mgr Gabriel Chang Bong-hun yang pernah menjadi rektor Tempat Ziarah Para Martir Paeti, Pastor Renzo De Luca SJ yang menjabat sebagai rektor Tempat Ziarah 26 Martir di Nagasaki (Jepang), dan Pastor Devasia Mathew Mangalam yang menjabat rektor Tempat Ziarah Fatima di Kolkata (India).
Program itu meliputi kunjungan ke Tempat Ziarah Para Martir Jeoldusan dan Katedral Myongdong, keduanya di Seoul. "Jeoldusan" berarti "bukit pemenggalan kepala." Pada tahun 1866, periode penganiayaan agama, 10.000 orang Katolik dipenggal kepalanya di bukit itu. Mereka itulah yang kemudian dikenang sebagai "Para Martir Jeoldusan."
Pada hari terakhir kongres, para peserta membahas draf dokumen akhir mereka dan memutuskan rencana aksi untuk membentuk sebuah federasi di tingkat nasional, regional, dan Asia. Itu akan menjadi federasi para rektor tempat-tempat ziarah. Federasi-federasi itu akan berfungsi sebagai forum pertukaran pikiran dan usulan, dan untuk mempromosikan budaya kehidupan dan keterbukaan terhadap keluarga, umat non-Krisaten, dan para pekerja migran.
Sebagai masukan untuk diskusi, Uskup Copiapo (Chile) Mgr Gaspar Quintana Jorquera dari Kongregasi Claretian berbicara tentang pengalamannya bersama Konferedasi Tempat-Tempat Ziarah di Amerika Latin. Sementara masukan lain adalah pengalaman yang diberikan oleh Pastor Cyril Guise dari Ordo Karmel tak bersepatu. Imam itu adalah ketua Asosiasi Tempat Ziarah dan Kerasulan Perziarahan di Amerika Serikat.
Dokumen akhir kongres itu akan dikeluarkan setelah delegasi dari Vatikan merampungkannya. Uskup Jeonju (Korea) Mgr Vincent Ri Pyung-ho, ketua Komisi Pastoral Migran dan Orang Dalam Perjalanan dari Konferensi Waligereja Korea, mengatakan kepada UCA News 23 November, "Kita harus memberi perhatian khusus bagi para peziarah dan membuat mereka mengalami kasih Allah."
Para peserta Asia itu berasal dari Bangladesh, Cina, Filipina, India, Indonesia, Jepang, Kazakhstan, Korea Selatan, Malaysia, Myanmar, Sri Lanka, Taiwan, Thailand, dan Vietnam.
(dikutip dari mirifica.net, 2 des 2005)